UNGKAPAN DALAM BAHASA JEPANG YANG MENUNJUKKAN KERAMAHAN DAN KEAKRABAN

Oleh : Fenny Febrianty

Abstrak

Ungkapan yang menunjukkan keramahan dan keakraban dalam bahasa Jepang dapat ditunjukkan dengan berbagai cara, diantaranya penggunaan partikel seperti ne, yo, no, ka, wa, na, ya, ze, dan zo. Selain itu penggunaan istilah-istilah yang biasa digunakan untuk anggota keluarga sendiri, seperti oneesan, oniisan, ojisan, dan obasan serta penggunaan pola kalimat te kuru dapat memberikan kesan ramah dan akrab  terhadap pembicaranya.

PENDAHULUAN

Salah satu tujuan penggunaan ragam sopan dalam pembicaraan adalah agar hubungan baik dengan lawan bicara dapat terjaga. Apalagi dalam bahasa Jepang, hal ini menjadi perhatian. Ragam sopan digunakan untuk membangun dan memelihara hubungan baik dengan orang lain. Untuk itulah orang Jepang saat melakukan percakapan dengan orang lain berusaha untuk selalu menggunakan berbagai bentuk ungkapan, baik itu ungkapan untuk menunjukkan perhatian, ungkapan untuk merendahkan diri sendiri, maupun ungkapan untuk menghormati orang lain. Namun disisi lain penggunaan ungkapan sopan berarti memberi jarak antara pembicara dan lawan bicaranya. Untuk itu, untuk dapat membuat lawan bicara merasa nyaman, orang Jepang menggunakan cara-cara tertentu untuk menunjukkan kesopanan namun ramah dan akrab sehingga komunikasi tetap berjalan dengan baik.

UNGKAPAN DALAM BAHASA JEPANG YANG MENUNJUKKAN KERAMAHAN KEAKRABAN

Untuk menunjukkan keramahan dan keakraban terhadap lawan bicara, dapat dilakukan melalui :

1.   Penggunaan Partikel

Dalam percakapan bahasa Jepang beberapa partikel digunakan untuk menunjukkan perasaan dan sikap ramah pembicara kepada pendengar, seperti :

a)Ne

dalam percakapan ‘ne’ digunakan pembicara untuk meminta persetujuan dari pendengar.

Contoh (1)

Honto ni soo desu ne (benar-benar begitu ya..)

Contoh (2)

A:  ii o tenki desu ne (cuaca yang bagus ya…)

B : ee, soo desu ne   (iya ya…)

Contoh (3)

A : kore de juubun deshoo ne ( begini, cukup ya…)

B : Saa, chotto tarinai kamo shiremasen ( mmm, mungkin

     kurang sedikit)

Namun terkadang dalam penggunaannya ‘ne’ diucapkan disela penggalan kalimat seperti :

Contoh (4)

Kinoo ne, kaisha e ittara ne, Yamada san ga saki ni kite ite ne, watashi no kao o miru to…

(kemarin saya pergi ke kantor. Yamada sudah berada di sana lebih dulu. Saat dia melihat saya…)

Contoh (5)

Ima chottto ne, isogashii kara ne, sono hen de ne shibaraku matte te kursenai?

(Saat ini karena saya sedang sibuk, bisakah kamu menunggu disana sebentar?)

Penggunaan ‘ne” dalam contoh (4) dan (5) menunjukkan percakapan yang sangat akrab Pengulangan ‘ne’ menunjukkan bahwa pembicara ingin pendengar untuk mendengar dan setuju atas apa yang diucapkannya. Namun untuk membuat percakapan menjadi sopan cukup dengan menambahkan ‘ne’ sekali saja diakhir kalimat,

Contoh (6)

Osamuku narimashita ne..(dingin ya…)

Sebenarnya contoh (6) merupakan sebuah kalimat yang sopan, namun penambahan ne menunjukkan keakraban antara pembicara dan pendengarnya. ‘ne’ dapat juga digunakan dengan partikel yang lain seperti yo, wa, no, dan ka.

 Contoh (7)

Kore de juubun desu yone (ini cukup kan??)

Ara, kore, ii wa ne (oh, ini bagus kan?)

Kore de ii none ( ini benar kan?)

Chotto mazui n ja nai desu kane ( Bukankah ini sedikit tidak enak?)

b)   Yo

Partikel yo menunjukkan bahwa pembicara ingin menegaskan pendapatnya kepada pembicara. Dalam upaya untuk menjaga hubungan baik dengan pendengar, penggunaan yo bukanlah bermaksud untuk memaksakan pendapat pembicara ataupun marah, namun terlebih untuk membuat pendengar merasa nyaman.

Contoh (7)

A : Daijoobu deshoo ka (Tidak apa-apakah?)

B : Daijoobu desu yo (Tidak apa-apa!)

 

Contoh (8)

A: Doomo sumimasen (Maaf sekali)

B: Iie, kamaimasen yo (Tidak..Tidak..Tidak apa-apa!)

 

c)   No

Penggunaan partikel no pada akhir percakapan memiliki dua fungsi yaitu,

1)     Menunjukkan pertanyaan

Contoh (9)

Kyou wa doko e iku no (kamu mau pergi kemana?)

2)    Menunjukkan penegasan/penekanan terhadap apa yang

dikatakan.

Contoh (10)

Kyoo wa massugu kaeru no (hari ini saya akan langsung pulang)

Dari segi penggunaan contoh (9) sama maknanya dengan no desu ka dan contoh (10) sama dengan  no desu.  Kedua bentuk ini memang biasanya di gunakan dalam percakapan yang akrab. Pria lebih sering menggunakan no saat berbicara dengan wanita dari pada kepada sesame pria. Wanita melakukan hal yang sama saat berbicara dengan anak-anak. Dengan kata lain penggunaan no menunjukkan perhatian kepada lawan bicara. Contoh (10) hanya diucapkan oleh oleh wanita dan anak-anak, sedangkan pria hanya mengucapkannya saat berbicara dengan anak-anak dan wanita saja.

Dari segi pengucapan no yang menunjukkan pertanyaan berbeda dengan no yang menunjukkan penjelasan.

Categories: Linguistik | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: