ANALISIS NILAI-NILAI DAN AMANAT MORAL YANG TERDAPAT DALAM NOVEL KOYASAN KARYA DARREN SHAN

Oleh : Fenny Febrianty, SS, M.Pd & Dini Hidayatullah

Abstrak

Koyasan merupakan salah satu novel mistik karya Darren Shan yang sangat menarik. Novel ini bercerita tentang seorang kakak yang berusaha untuk menyelamatkan adiknya. Dan dengan dorongan rasa sayang terhadap adiknya dia mampu mengalahkan ketakutan dia akan sesuatu ketika dia kecil. Dari kisah petualangannya, terdapat nilai-nilai moral yang sangat bernilai yang perlu dicontoh. Untuk itu penulis tertarik untuk menganalisis nilai-nilai dan amanat moral yang terdapat dalam novel ini.

Kata kunci : Koyasan, Darren Shan

A. PENDAHULUAN

Darren Shan adalah seorang penulis buku horor dan fiksi.  Darren Shan bernama asli Darren O`Shaughnessy. Ia seorang Irlandia yang lahir di London pada tanggal 2 Juni 1972 di London. Sejak berumur 14 tahun, ia telah bercita-cita menjadi penulis. Pada bulan Januari 2000 terbit buku anak-anaknya yang pertama Cirque du Freak, buku #1 serial The Saga of Darren Shan. Buku ini mendapat banyak ulasan dan perhatian media massa, terutama ketika Warner Bros membeli hak atas kedua judul pertama seri itu untuk difilmkan.
Novel karya-karya lainnya  adalah Sang Pencuri ( iblis Demon thief ), BEC ( buku keempat buku Demonata ) dan Koyasan. Koyasan adalah sebuah cerita mistis tentang seorang anak benama Koyasan. Novel ini intinya menceritakan mengenai ketakutan akan sesuatu di masa kecil yang dapat dikalahkan dengan sebuah tekad dan rasa sayang kepada seseorang. Sebuah perjuangan untuk mengembalikan kepercayaan dari orang yang dicintainya.
Novel ini sangat menarik dari segi isi maupun pesan yang ingin disampaikannya. Oleh karena itu penulis tertarik untuk membahas mengenai nilai-nilai dan amanat moral yang tercermin dalam novel ini.

B. PEMBAHASAN
1. Sinopsis

Berlatar kehidupan pedesaan masyarakat Jepang, Darren Shan menghadirkan tokoh Koyasan sebagai seorang anak perempuan yang pemberani dan amat menjaga kebersihan serta kerapian dirinya. Ketika ada seekor kambing yang terperosok ke jurang dan semua anak lain hanya bisa menangis tanpa berbuat apa-apa, dia yang pertama merangkak turun untuk menarik kembali kambing itu. Namun di luar semua itu, ia amat takut dengan hantu-hantu yang ada di pekuburan kuno di seberang desanya. Antara desa dan pekuburan itu di pisahkan oleh sungai dan dihubungkan oleh sebuah jembatan. Anak-anak lain sebayanya pada siang hari biasa ke pekuburan kuno itu untuk bermain dan mengembala kambing. Koyasan adalah satu-satunya anak yang tak pernah ikut bermain di pekuburan kuno itu, bahkan menginjakan kakinya di jembatan itupun ia tak berani.
Cerita ini bermula ketika Koyasan harus berjuang untuk mengatasi rasa takutnya sendiri. Koyasan yang amat penakut akan hantu bahkan di siang hari, mendadak harus masuk ke pekuburan kuno setelah langit petang demi menyelamatkan jiwa adiknya Maiko yang diculik oleh hantu-hantu di sana. Sebelum menyelamatkan adiknya, Koyasan diberi petunjuk oleh Itako, seorang wanita tua yang dapat melihat masa depan dan paham dengan dunia roh. Ia memberitahu bahwa para hantu di pekuburan itu diam-diam telah membuat perjanjian rahasia dengan Koyasan, sehingga hanya dialah yang dapat menyelamatkan jiwa adiknya. Waktu yang tersedia hanya satu malam sebelum jiwa adiknya melebur seiring dengan terbitnya fajar. Di pekuburan nanti, Koyasan harus menaklukan tiga hantu yang telah diutus untuk dihadapinya secara individual. Jika mampu menaklukan tiga hantu tersebut dan tidak mengeluarkan suara sedikitpun, Koyasan dapat membawa pulang kembali jiwa adiknya.

2. Pesan/ Amanat

Novel ini seperti mengajarkan kita bahwa rasa takut itu adalah bentukan dari benak kita sendiri. Tiap orang, pada suatu saat, tidak dapat terus tinggal dalam zona nyamannya dan lari dari kenyataan yang ada. Tokoh Koyasan menunjukan itu pada kita semua. Dalam keadaan yang terdesak, ia harus keluar dari zona nyaman itu dan membuktikan bahwa dirinya mampu melewati ujian yang ada. Tiga hantu yang diutus untuk menghadang Koyasan pun merupakan representasi dari diri Koyasan sendiri. Seperti saat ia harus menghadapi hantu menyeramkan tak berwajah namun dengan pakaian super rapi dan indah. Koyasan sadar bahwa wujud hantu itu adalah bentukan dari sifatnya sendiri. Ia kemudian mendekati hantu itu dan mencopot beberapa kancingnya. Alih-alih menerkam Koyasan, hantu itu malah memunguti kancing-kancingnya lalu pergi entah kemana. Mungkin seperti Koyasan, hantu itu pulang untuk mencari benang dan memperbaiki kancingnya yang terlepas.
Dalam penyajiannya, penulis benar-benar mengeksplorasi sisi psikologis dari tokoh utama sebagai seorang manusia. Ia amat paham bagaimana rasa takut yang dialami oleh seseorang hakikatnya adalah bentukan dari alam bawah sadarnya. Namun ketika orang itu telah menemukan kesadarannya, maka rasa takut itu akan dengan mudah dapat diatasinya. Namun jika difikirkan sekilas, ada bagian yang agak kurang relevan. Penulis di dalam cerita ini berusaha menunjukan bahwa rasa takut manusia kepada hantu itu adalah hasil didikan turun-temurun kepada anak-anak mereka. Sejak generasi ke generasi, manusia takut akan hantu dan menganggap mereka adalah makhluk yang menyeramkan dan jahat. Hingga demikian, para hantu itu pun menjadi benar-benar jahat karena manusia memang tak ingin berinteraksi dengan mereka.
Jika dilihat lebih dalam lagi, penulis pada hakikatnya ingin menunjuk pada perilaku diskriminatif yang biasa dilakukan manusia kepada kelompok manusia lainnya. Dikaitkan dengan pemilihan latar cerita di Jepang, terselip di dalamnya pesan akan polarisasi kekuatan barat dan timur. Antara bangsa penjajah yang menganggap dirinya berbudaya, dengan bangsa timur yang dianggapnya tidak beradab. Hingga pada pertengahan abad ke-20, ketakutan bangsa barat ini menjadi nyata dengan bangsa Jepang yang menjelma bagai hantu bagi Barat. Mungkin hampir sama dengan akhir cerita ini yang happy ending. Jepang dan dunia Barat kini menjadi partner dalam hegemoni perekonomian dunia.

3. Nilai Moral

Nilai moral yang terkandung dalam novel ini adalah rasa takut yang berlebihan akan membawa diri sendiri pada keputusan yang salah, bahkan mungkin bisa membuat diri sendiri tak terselamatkan ( seperti ketakutan Koyasan pada hantu-hantu yang hampir membuat Koyasan sendiri mati diterkam hantu ). Nilai lain yang terkandung dalam novel ini juga mengatakan bahwa walaupun seseorang memiliki rasa takut yang tinggi dalam hidupnya, namun bukan berarti mereka seorang pengecut, karena yang dikatakan pengecut adalah mereka yang tidak melakukan sesuatu apapun disaat ketakutan mengancam mereka, melainkan mereka harus menghadapi rasa takut dalam hidupnya bukan lari dari rasa takut tersebut (  masalah ). Seperti dalam kutipan novel tersebut “setiap orang memiliki rasa takut dalam hidupnya, namun itu tidak berarti mereka pengecut”
Dengan mennggunakan akal sehat rasa takut  itu akan hilang dengan sendirinya, setiap masalah pasti akan ditemukan jalan keluarnya asal dengan pikiran yang tenang dan logis.
Nilai-nilai lain yang terkandung adalah carilah kelemahan dari segala sesuatu yang sedang kita hadapi karena sekuat dan sehebat apapun lawan kita dia pasti memiliki kelamahan yang tidak mudah diketahui.
Bertahan dan berfikir juga menjadi salah satu nilai khusus yang terkandung dalam novel ini, yang berarti dengan bertahan dan tidak lari dari masalah kemudian berfikir secara logis kita dapat menyelesaikan masalah yang sedang kita hadapi.
Begitupun pepatah mengatakan “ rasa takut tidak menjadikan panjang umur dan pemberani juga tidak menjadikan pendek umur “.

C. PENUTUP

Rasa sayang atau pun cinta terhadap seseorang dapat memberikan suatu motivasi untuk melakukan sesuatu yang mustahil sekalipun untuk menyelamatkan orang yang kita sayangi atau cintai.

Categories: Sastra | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: