GAMBARAN KRISTIANITAS DI JEPANG DALAM NOVEL SILENCE KARYA SHUSAKU ENDO

Oleh : Pitri Haryanti, M.Pd & Lista Srikandi

Abstrak

Perjalanan penyebaran Kristenisasi di Jepang yang dilakukan oleh misionaris Portugis selama empat periode mengalami pasang surut dengan berbagai tantangan dan hambatan. Dalam novel Silence karya Shusaku Endo, tergambar bagaimana luka-liku perjalanan kristenisasi di Jepang dari perjalanan seorang murid Ferreira yang bernama Sebastian Rodrigues dalam menemukan gurunya di Jepang yang diberitakan sudah murtad. Dan setibanya disana, dia melihat sendiri dan merasakan bagaimana penderitaan yang dialami orang-orang Jepang dalam mempertahankan keyakinan mereka untuk memeluk agama Kristen. Dari perjalanannya di sana dia juga menemukan alasan kenapa gurunya menjadi murtad dan alasan itu pun membuat dia memilih untuk menjadi murtad seperti gurunya.

Kata kunci : Kristianitas, Shusaku Endo

A.      PENDAHULUAN

Agama Kristen memiliki sejarah yang cukup panjang dalam perkembangannya di Jepang. Agama ini dipercaya pertama kali diperkenalkan di Jepang oleh misionaris Katolik dari Spanyol yang bernama Francisco Xaverius yang tiba di kota Nagasaki, Kyushu tahun 1549.
Perjalanan kristenisasi di Jepang yang dilakukan oleh misionaris Kristen dengan berbagai intriknya tergambar dalam novel Silence karya Shusaku Endo. Shusaku Endo (27 Maret 1923—29 September 1996) adalah seorang pengarang Jepang abad ke-20 yang menulis dari perspektif yang unik sebagai seorang Jepang dan juga Katolik.Endo dilahirkan di Tokyo pada 1923. Tak lama kemudian orangtuanya pindah dan menetap di Manchuria yang saat itu diduduki Jepang. Ketika orangtuanya bercerai pada 1933, Endo dan ibunya kembali ke Jepang dan tinggal di Kobe yang merupakan kampung halaman ibunya. Ibunya menjadi Katolik ketika Endo masih kecil dan kemudian membesarkan Endo dalam agama yang sama. Endo dibaptiskan pada 1935 ketika ia berusia 12 tahun, dan mendapatkan nama Kristen Paul.
Endo belajar sastra Perancis di Universitas Lyon dari 1950 hingga 1953. Buku-bukunya mencerminkan banyak pengalamannya pada masa kanak-kanak, termasuk stigma sebagai orang luar, pengalaman sebagai orang asing, kehidupan seorang pasien rumah sakit, dan pergumulan dengan tuberkulosis. Iman Katoliknya dapat dilihat pada tingkat tertentu dalam semua bukunya, dan seringkali merupakan ciri yang sentral dari karya-karyanya. Kebanyakan dari tokoh-tokohnya bergumul dengan dilema moral yang rumit, dan pilihan-pilihan mereka seringkali membawa hasil yang bercampur tragedi.
Oleh karena novel ini membahas mengenai perjalanan seorang murid Ferreira yang bernama Sebastian Rodrigues dalam menemukan gurunya di Jepang, maka penulis tertarik untuk meneliti bagaimana perjalanan kristenisasi di Jepang yang tergambar dalam novel tersebut.

B. PEMBAHASAN

a. Sinopsis Cerita

Novel Silence karangan Shusaku Endo dapat dikatakan cukup berani dalam menentukan ide cerita. Cerita bermula di zaman edo di Jepang, saat Kristianitas menjadi hal yang sangat ditentang disana. Di sisi lain, negara-negara Eropa sedang gencar melakukan penyebaran agama Kristen ke negara-negara lain, termasuk Jepang.
Cerita ini diawali dengan laporan bahwa salah seorang pastor kenamaan asal Portugis, Bapa Ferreira, yang dikabarkan telah menjadi murtad karena siksaan bertubi-tubi yang dialaminya selama di Jepang. Maka dari itu salah seorang murid Ferreira yang bernama Sebastian Rodrigues mencoba untuk mencari gurunya dan meyakinkan dirinya sendiri mengenai kabar yang ia dengar. Setibanya disana, Rodrigues melihat sendiri dan merasakan bagaimana penderitaan yang dialami orang-orang Jepang yang dengan berani memeluk dan mempertahankan keyakinannya itu.
Pemerintah Jepang pada saat itu memang sangat gencar untuk mencari dan menyiksa semua orang Kristen agar mereka mau untuk menyangkali keyakinannya. Pada mulanya Rodrigues ditantang untuk menyangkali keyakinannya dengan menyiksa orang-orang Jepang pemeluk Kristen dan melihat seberapa tega seorang pastor melihat umatnya disiksa karena dirinya tidak mau menyangkali keimanannya. Satu demi satu orang Jepang yang menganut Kristen disiksa. Diikat terbalik dalam sebuah lubang, sampai dibenamkan dan diikat di tepi lautan. Sebagaimanapun mereka tahan akan siksaan itu, pada akhirnya ajal juga yang menjemputnya. Rodrigues, dalam perjalanannya mencari gurunya Ferreira dihadapkan pada keadaan dan pemikiran yang dilematis karena melihat betapa banyaknya korban yang berjatuhan karena tindakan para pastor Portugis yang terus mencoba untuk menyebarkan keyakinannya di tanah Jepang.
Situasi dilematis itu memuncak ketika Tuhan yang Rodrigues yakini seolah diam tanpa berbuat apapun untuk menyelamatkan umatnya dari kesengsaraan. Sampai pada akhirnya Rodrigues pun berhasil dipertemukan dengan gurunya Ferreira, keadaan dalam hatinya justru semakin dilematis. Berbagai macam pikiran berkecamuk dalam benaknya, terutama ketika Ferreira menganggap para Yesuit Portugis, seperti dirinya pada masa lampau, egois dan hanya memikirkan kehormatan dirinya sendiri. Ketika penduduk setempat disiksa sedemikian rupa karena keyakinan yang mereka sebarkan, akankah para pastor tersebut diam dan menutup mata. Maka pada akhirnya Ferreira memutuskan untuk menjadi murtad agar penduduk Jepang dapat dibebaskan dari siksaan tersebut. Yang paling menarik dan membuat novel ini tidak terasa membosankan untuk dibaca adalah akhir cerita yang sulit untuk ditebak. Pada akhirnya Rodrigues pun memutuskan untuk menjadi murtad karena siksaan batin yang terus diterima melihat penduduk Jepang terus menerus disiksa jika ia tidak menyangkali keyakinannya.

b. Sejarah masuknya kristen ke Jepang

Agama Kristen mempunyai sejarah yang cukup panjang dalam perkembangannya di Jepang. Agama ini dipercaya pertama kali diperkenalkan di Jepang oleh misionaris Katolik dari Spanyol yang bernama Francisco Xaverius yang tiba di kota Nagasaki, Kyushu tahun 1549.
“Baru beberapa bulan datang  kesana , Xavier sudah jatuh cinta kepada bangsa Jepang, yang disebutnya “pembawa suka cita dihatinya”. (hal 8)
Menurut catatan sejarah, bangsa Eropa pertama yang berhubungan dagang dengan Jepang adalah orang Portugis yang mendarat di pulau Kyusu pada tahun 1542, yang menandakan bahwa  saat itu agama Kristen juga sudah mulai masuk disebarkan ke negara tersebut. Pada masa itu di Jepang sering terjadi perang dan kekacauan karena persaingan antar para samurai yang ingin memperluaskan daerah kekuasaannya sampai akhirnya negara tersebut mulai dikuasai oleh beberapa klan samurai terkuat yang bisa dikatakan mampu mempersatukan seluruh Jepang.
“Perlu dicatat bahwa usaha misionaris ini dimulai pada periode Sengoku, ketika Jepang yang tercabik-cabik para Daimyo, tidak memiliki pemerintahan pusat yang kuat.” (hal 9).
Perkembangan agama Kristenpun mengalami pasang dan surut seiring dengan kebijakan penguasa saat itu.

1)        Kristen Dalam Empat Zaman

  • Oda Nobunaga (1534-1582)

Pemimipin militer ini dikenal menjalin hubungan yang cukup dekat dengan missionaris kristen. Pembangunan beberapa gereja seperti gereja Nanbaji Christian di Kyoto pada tahun 1578 juga didukung oleh pemerintahan Oda Nobunaga. Pada masa inilah tampak penyebaran agama kristen cukup pesat dan banyak penguasa daerah saat itu beralih memeluk agama kristen.
“Arsitek-arsitek penyatuan ini (Nobunaga, Hideyoshi, dan Ieyasu) menjalin hubungan dekat dengan para Yesuit Portugis, sebagian karena ingin membuka hubungan dagang dengan kapal-kapal hitam dari Macao, sebagian (dalam kasus Nobunaga dan Hideyoshi) karena rasa tidak suka yang dalam terhadap Buddhisme….” (hal 10)
Namun ditengah dukungan penuh penyebaran agama kristen oleh penguasa saat itu, tidak lepas dari kepentingan politik yaitu meredam pemberontakan yang banyak muncul yang didukung oleh pendeta agama Buddha dari sekte Tendai di kuil Hiei. Selain itu, alasan lain mengapa Oda Nobunaga mendukung masuknyan Kristen adalah mempermudah hubungan dagang, mendapatkan senjata, mesiu, meriam dan lain-lain.

  • Toyotomi Hideyoshi (1573-1598)

Pada awalnya Toyotomi Hideyoshi penguasa Jepang saat itu memberi kebebasan dalam penyebaran agama Kristen. Namun situasinya berubah pada saat di beberapa wilayah, para Daimyo yang merangkap jabatan sebagai kepala perang beralih memeluk kristen. Hal ini juga menyebabkan kekuasaan misionaris dan orang asing menjadi semakin besar dan mengkhawatirkan.
“Akan tetapi Jepang bisa berubah secara skizofernik. Dan apa persisnya yang memicu kemarahan xenofobik Hideyoshi tidak pernah dipaparkan dengan jelas”. (hal 10)
Tanggal 24 Juli 1587, pemerintah mengumumkan sebuah peringatan yang dikenal dengan nama “Bateren Tsuiho Rei” (The Purge Directive Order) atau perintah pendeportasian dan pembatasan aktivitas para missionaris di beberapa daerah.
“Aku telah memutuskan,”demikian pesannya, “para padre tidak boleh tinggal di tanah Jepang. Karenanya aku perintahkan mereka menyelesaikan seluruh urusan mereka dalam dua puluh hari, setelah itu  mereka harus pulang ke negeri mereka sendiri.” (hal 10)
Masalah semakin memuncak ketika pada 26 Agusutus 1596, kapal perang Spanyol, San Felipe yang sedang menempuh perjalanan dari Filipina ke Acapulco singgah di salah satu pelabuhan di Shikoku. Kapal itu dilengkapi dengan persenjataan lengkap sehingga menimbulkan kecemasan dari pihak pemerintah, apalagi saat itu Filipina dikuasai oleh Spanyol.
“Ketika berita ini sampai ke telinga Hideyoshi, amarahnya meluap lagi dan dia memerintahkan sekelompok missionaris kristen segera dieksekusi”. (hal 11).
Lalu pada Februari 1597 di musim dingin, dua puluh enam orang Jepang dan Eropa disalibkan, yang hingga kini tidak jauh dari stasiun Nagasaki, masih berdiri monumen tempat mereka meninggal. Setelah masa itu, mulai diberlakukan kebijakan sangat ketat yang membatasi kebebasan penduduk untuk berhubungan dengan pihak asing termasuk juga penyebaran agama kristen.

  • Tokugawa Ieyasu

Pada 1608, hubungan diplomatis antara Belanda dengan Jepang dimulai. Tokugawa Ieyasu juga pada awalnya bersikap lunak dan  toleran kepada agama kristen. Kebijakan anti kristen terjadi ketika konflik dagang dan perebutan pengaruh dengan pihak asing. Pada saat itu terjadi peritiwa Madre de Deus, yaitu terbunuhnya 40 orang Jepang oleh serangan kapal portugis. Karena itu, Tokugawa Ieyasu memberlakukan hukuman mati bagi para missionaris.
Pada saat bersamaan, ketakutannya bertambah saat ia mengamati kepatuhan mutlak rakyatnta yang beragama kristen kepada pembimbing mereka yang berkebangsaan asing.
“Maka pada tahun 1614 surat keputusan pengusiran itu diumumkan secara resmi, menyatakan bahwa “gerombolan Kirishitan telah datang ke Jepang… dengan maksud menerapkan hukum yang jahat, untuk menjungkirbalikan doktrin sejati, sehingga mereka bisa mengubah pemerintahan negeri ini. Ini merupakan bibit malapetaka dahsyat, dan mesti dimusnahkan.” (hal 12)
“Perburuan terhadap orang-orang kristen dan pastor-pastor dilakukan secara sistematis dan tidak kenal ampun untuk menyapu bersih setiap jejak kristianitas yang kelihatan.”(hal 13)
Pada mulanya, bentuk eksekusi yang paling umum adalah dibakar. Richard Cocks yang berkebangsaan Inggris menggambarkan bahwa dia melihat “lima puluh lima orang dari berbagai usia, laki-laki dan perempuan, dibakar hidup-hidup di dasar sungai Kamo yang kering di Kyoto (Oktober 1916), dan diantara mereka ada anak-anak berusia lima atau enam tahun dala pelukan ibu mereka, berseru-seru, “Yesus, terimalah jiwa-jiwa mereka.”
Akhirnya pada 1635, pemerintah menutup negerinya secara total dari pengaruh luar. Tidak terkecuali bagi pemeluk agama kristen. Sebagian penganut kristen yang setia tetap menjalankan ibadahnya dengan sembunyi-sembunyi dan dengan berbagai cara misalnya Bunda Maria yang disamarkan menjadi Dewi Kannon.
Hal-hal penting dari Edik (kebijakan anti kristen) yang dikeluarkan pada tahun 1635 yaitu:
1. Orang-orang Jepang dibatasi oleh pemerintah sendiri. Sejumlah aturan ditentukan untuk mencegah mereka meninggalkan Jepang. Dan jika ada hal-hal demikian yang terjadi, mereka akan dihukum mati. Orang-orang Eropa yang masuk ke Jepang secara ilegal juga akan menghadapi hukuman mati.
2. Katolisisme berusaha dihancurkan. Orang-orang yang ditemukan mengikuti iman Kristen akan di interogasi dan setiap orang yang menjalin hubungan dengan Katolisisme akan dihukum. Untuk menemukan orang-orang yang masih menjadi Kristen, penduduk diiming-imingi hadiah bagi orang-orang yang menemukannya. Tindakan pencegahan atas aktivitas misionaris juga ditekankan melalui edik tersebut, tidak ada misionaris yang diizinkan masuk, dan jika ditemukan mereka akan dihukum.
3. Penutupan hubungan perdagangan dan membatasi barang-barang perdagangan ditetapkan untuk membatasi pelabuhan-pelabuhan yang terbuka untuk perdagangan bagi pedagang yang telah diizinkan masuk. Hubungan dengan Portugis ditutup secara keseluruhan, pedagang-pedagang Cina dan VOC dibatasi untuk hanya berdagang di Nagasaki.
Pada masa sistem pemerintahan militer di Jepang, walapun berada dalam tekanan penguasa sebetulnya agama Kristen bisa dikatakan mengalami perkembangan yang cukup luas. Tercatat ada sekitar 17 Daimyo atau kepala daerah yang memeluk agama Kristen.

  • Restorasi Meiji (1868-1912)

Setelah Jepang menutup diri dari dunia luar selama 250 tahun, Commodore Perry membawa 4 kapal perang ke Shimoda pada 8 Juli 1853. Enam tahun kemudian penyebaran agama kristen dimulai dengan kedatangan tujuh missionaris protestan. Walaupun Jepang dianggap sudah membuka diri kembali dengan asing, bukan berarti agama kristen bisa hidup dan berkembang dengan bebas dan aman di Jepang karena di berbagai tempat, konflik, pengrusakan dan pemberontakan bahkan pembunuhan masih sering terjadi. Sampai akhirnya Jepang mulai bisa menerima agama kristen pada tahun 1873.

a.      Gambaran Kristianitas di Jepang Berdasarkan Pengalaman Nyata Sebastian Rodrigues dalam Novel Silence

1)      Tujuan Sebastian Rodrigues Melakukan Perjalanan ke Jepang

Gereja Roma mendapatkan kabar bahwa salah satu ahli teologi kristen khatolik mereka yaitu Christovao Ferreira yang dikirim ke Jepang mengalami penyiksaan di dalam “lubang” yang ada di Nagasaki. Karena tidak kuat dengan penyiksaan tersebut, sang pastor akhirnya memilih murtad dan melepaskan atribut kekristenannya.
“Sejak tahun 1587, Hideyoshi, penguasa wali, telah mengubah kebijaksanaan pendahulunya, dan telah memulai penganiayaan mengerikan terhadap orang-orang kristen. Dimulai ketika dua puluh enam pastor dan umat dihukum mati di Nishizaka di Nagasaki.”(hal 26).
Mengetahui hal tersebut gereja Roma tidak bisa percaya, bahwa laki-laki yang sangat cakap dan teguh terhadap agamanya ini bisa dipaksa meninggalkan keyakinannya tersebut. Sebastian Rodrigues, salah satu murid Ferreira bersama kedua temannya yaitu Fransisco Garrpe dan Juan de Santa Marta merasa terpanggil untuk meneruskan usaha para missionaris sebelumnya untuk menyebarkan agama kristen. Selain itu, Sebastian Rodrigues ingin sekali mencari keberadaan gurunya tersebut.
“Rodrigues dan rekan-rekannya sangat ingin berangkat ke Jepang untuk mengetahui secara langsung nasib Ferreira.”(hal 34).
Karena hal itulah, Sebastian Rodrigues dan teman-temannya pergi ke Macao yang merupakan basis perdagangan antara Cina dan Jepang dengan menumpang kapal Portugis. Sesampainya di Macao, ketiga pastor tersebut dilarang oleh pastor yang bernama Valignano untuk berlayar ke Jepang. Hal itu dikarenakan situasi yang sangat berbahaya di Jepang. Namun ketiga pastor tersebut tetap bersikokoh untuk pergi ke Jepang.
“Tapi, dengan bantuan Tuhan, misi rahasia kami masih punya kemungkinan berhasil,”…..”di negeri miskin-papa itu umat kristen telah kehilangan pastor-pastor mereka dan mereka bagaikan kawanan domba tanpa pengembala. (hal 39)
Akhirnya Valignano pun menyetujui usulan ketiga pastor tersebut. Namun Valignano memperingatkan agar mereka berhati-hati pada Inoue,yaitu orang yang sangat menentang agama kristen. Pada saat itu, di Macao ada orang Jepang yang mabuk dan terkatung-katung tidak bisa pulang ke Jepang yaitu Kichijiro. Karena akses ke Jepang sulit dimasuki orang asing, Kichijiro dijadikan tameng agar mereka bisa memasuki Jepang. Dengan menumpang kapal dagang Cina, mereka pun pergi berlayar ke Jepang.

2)            Awal Sebastian Rodrigues Menyebarkan Kristen

Sesampainya di Jepang, Kichijiro membawa ketiga pastor tersebut ke daerah yang disebut Tomogi. Daerah tersebut merupakan daerah yang sebagian besar penduduknya beragama kristen. Kedatangan missionaris tersebut disambut hangat oleh warga setempat.
“Bagaimana aku menggambarkan suka cita yang memenuhi wajah mereka ketika kami memberikan salib yang terkalung di leher kami? Mereka berdua membungkuk sampai ke tanah, dan sambil menempelkan salib itu di dahi, mereka mengucap puji syukur yang panjang.” (hal 60)
Orang-orang di daerah tersebut sudah 6 tahun tidak memiliki pastor ataupun bruder. Akhirnya Sebastian Rodrigues pun berinisiatif untuk memilih laki-laki yang sudah berumur untuk menjadi Jiisama (imam) yang memegang kekuasaan tertinggi dan membaptis orang-orang yang akan memeluk kristen, Tossama yaitu sekelompok laki-laki yang bertugas mengajar umat kristen dan memimpin dalam doa, dan terakhir Mideshi yaitu para penolong sesama.
Selain itu, Sebastian Rodrigues pun menyebarkan agama di daerah goto, karena permintaan daerah tersebut.
“Cepatlah datang ke desa kami. Bapa, kami mengajari anak-anak kecil berdoa. Mereka menungu-nunggu kedatangan Anda.” (hal 79)
Di daerah tersebut, Sebastian Rodrigues membaptis tiga puluh orang dewasa dan anak-anak. Sambil menyebarkan kristen, ia pun terus berupaya mencari keberadaan Ferreira, namun hasilnya nihil. Tak sedikitpun ia mendapatkan informasi. Namun setibanya kembali di Tomogi, Mokichi, Ichizo dan Kichijiro yang merupakan penganut setia kristen di daerah tersebut, memberitahukan bahwa beberapa pengawal pemerintah mendatangi desa mereka karena mendengar adanya penyebaran kristen di daerah tersebut.
“Bapa,larilah! Cepat, cepatlah pergi!” Mokichi berbicara tergesa-gesa seraya mendorongku di depannya. “Para pengawal mendatangi desa.” (hal 86)

3)       Hambatan yang dihadapi Sebastian Rodrigues

Para pengawal datang sebelum tengah hari, dan penduduk desa Tomogi tidak mendapatkan peringatan sebelumnya. Para pengawal yang terdiri dari kaum samurai itu memaksa para warga untuk mengakui bahwa mereka beragama kristen. Tapi karena tidak ada yang berbicara, akhirnya kaum samurai itu meminta 3 orang yang dijadikan sandera. Para warga melindungi para missionaris. Akhirnya diputuskanlah, bahwa yang akan dijadikan sandera adalah Mokichi, Ichizo dan Kichijiro.
Pada saat di interogasi, ketiganya sama-sama bungkam untuk mengakui  bahwa mereka menganut agama kristen.
“Ketiganya menjawab bahwa mereka penganut Buddha yang taat dan menjalani hidup sesuai ajaran para pendeta Buddha di kuil Danna”. (hal 101)
Namun ketika mereka disuruh untuk meludahi salib dan menyatakan bahwa sang perawan suci adalah pelacur, ketiganya tidak berdaya. Ichizo dan Mokichi menangis dan mengakui kalau mereka penganut kristen dan dijatuhi hukuman mati dengan cara disiksa dan ditenggelamkan di laut. Namun Kichijiro, karena takut mati, ia berani meludahinya dan ia bebas dari hukuman mati.
Mendengar hal tersebut, Sebastian Rodrigues dan rekan-rekannya mengalami tekanan batin yang amat sangat. Dan mereka beranggapan bahwa kejadian ini adalah ulah para missionaris. Namun akhirnya, ketika melakukan perjalanan ke Hirado sendirian, Sebastiana Rodrigues tertangkap oleh pengawal dari Inoue yaitu orang yang berkuasa yang sangat membenci agama kristen. Ia dilaporkan oleh pengikutnya sendiri yaitu Kichijiro. Kichijiro terpaksa melakukan hal tersebut karena ia diancam oleh pengawal-pengawal Inoue.
“Bapa, saya bisa apa, orang lemah seperti saya ini? Saya tidak menghianati bapa demi uang. Saya diancam oleh pejabat-pejabat itu.” (hal 185)
Maka terhentilah untuk sementara usaha penyebaran agama kristen di Jepang.

4)              Murtadnya Sebastian Rodrigues

Setelah ditangkap, Sebabtian Rodrigues bertemu dengan Magistrat Inoue. Disana mereka saling berargumen. Diketahui, bahwa dahulu Inoue sempat di baptis dan menganut kristen. Namun karena ia merasa pengaruh barat semakin memfitnah bangsa Jepang terutama dalam bidang perdagangan, ia pun akhirnya memilih untuk meninggalkan agama kristen.
Lalu Inoue mempertemukan Sebastian Rodrigues dengan Ferreira, orang yang selama ini dia cari. Namun kini Ferreira sudah berubah. Ia mengganti namanya menjadi Sawano Chuan. Ia pun terlihat berpenampilan layaknya orang Jepang. Ia bekerja menjadi bawahan Inoue dan bertugas untuk menterjemahkan buku-buku asing.
Begitu dipertemukan, Sebastian Rodrigues merasa kaget. Melihat tersebut, Ferreira pun berusaha untuk meyakinkan Rodrigues, bahwa usaha yang dilakukannya untuk menyebarkan  kristen selama ini adalah sia-sia.
“Mereka tidak percaya kepada Tuhan orang kristen,”Ferreira berbicara dengan jelas dan percaya diri, dan sengaja menekankan setiap patah kata. “Sampai hari ini, bangsa Jepang tidak pernah memiliki konsep tentang Tuhan. Dan tidak akan pernah (hal 238).
Ferreira menambahkan, bahwa bangsa Jepang adalah bangsa yang berbeda dari bangsa lainnya. Ia hanya ingin mengambil sesuatu yang membuat negaranya maju.
“Kristianitas yang mereka percayai itu bagaikan kerangka kupu-kupu yang terjerat di jaring laba-laba. Hanya bentuk luarnya yang mereka ambil, darah dan dagingnya sudah lenyap. (hal 241)
Tidak lama dari itu, Sebastian Rodrigues pun dipertemukan dengan kedua rekannya yang sama-sama tertangkap yaitu Fransisco Garrpe dan Juan de Santa Marta. Mereka pun menjalani siksaan yang teramat sangat. Melihat hal tersebut Inoue dan pengawalnya memberikan syarat pada Rodrigues yang menyatakan seandainya Rodrigues mau meninggalkan kristen, maka siksaan terhadap warga dan kedua temannya tersebut akan dihentikan.
“Ke kantor magistrat. Aku tidak ingin membuatmu menderita. Percayalah! Aku tidak menyuruhmu berbuat salah. Cukup kaukatakan: ‘Aku menyangkal keyakinanku’.” (hal 252)
Ferreira pun berupaya menasehati Rodrigues dan mengatakan agar Rodrigues jangan memikirkan kepentingan diri sendiri saja. Kalau terus menerus begitu, maka semua orang kristen akan menjadi korban. Dan diketahuilah bahwa alasan Ferreira meninggalkan keyakinannya adalah karena ia tidak tahan melihat siksaan yang diterima oleh pengikut-pengikutnya. Mendengar hal tersebut, Rodrigues menangis, dan ia mengambil keputusan untuk meninggalkan agamanya dan menginjak gambar-gambar Yesus dan Ave Maria.
“Tuhan sejak lama tak terhitung sudah berapa kali aku membayangkan wajahmu….”Dan sekarang dengan kaki ini, aku akan menginjak wajah-wajah itu.” (hal 268).
Sejak saat itu, Rodrigues menjadi paulus murtad, dan banyak diantaranya yang sering mengolok-olok dirinya.
“Paulus murtad…paulus murtad!” mereka tah heni berseru. Beberapa bahkan melemparkan batu lewat jeruji jendela.” (hal 271)
Setelah itu pemerintah Jepang memasang pengumuman sebagai berikut:
Ajaran kristen telah bertahun-tahun dilarang. Setiap orang dianjurkan melaporkan orang-orang yang mencurigakan. Untuk yang melaporkan seorang pastor: 300 keping perak, yang melaporkan seorang bruder: 200 keping perak, yang melaporkan orang yang kembali memeluk kristen: 200 keping perak, yang melaporkan guru kristen: 100 keping perak. Siapapun yang ketahuan memberi perlindungan pada orang-orang tersebut, ia akan dijatuhi hukuman yang berat.

C. PENUTUP

Perjalanan dalam penyebaran agama Kristen di Jepang sangat panjang dan berliku-liku. Tetapi meskipun demikian seiring dengan perubahan Zaman sampai saat ini agama Kristen di Jepang dapat hidup dengan damai tanpa konflik apapun.

Categories: Sastra | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: